Senin, 24 November 2014

Stake Holder Theory



What is stake holder and who are your stake holders?. Sepertinya pertanyaan tersebut sangan penting terhadap jalannya sebuah perusahaan. Yaa.. jawabannya dalam artikel ini..

Stake holder adalah individu-individu dan kelompok-kelompok yang memiliki legitimasi untuk menuntut kepada organisasi agar bisa berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, karena mereka dipengaruhi oleh praktik, kebijakan, dan tindakan organisasi. Korporat memiliki hubungan yang aktif dan pasif dengan stake holder. Hubungan tersebut bersifat dinamis, dan hubungan diatur dengan kontrak. Baik kontrak secara tertulis, maupun kontrak secara tidak tertulis. Adapun stake holder sebuah perusahaan meliputi, customer, supplier, komuniti, tenaga kerja, dan lingkungan alam. (Ardianto & Machfudz, 2011)

Menurut Thomas & Andrew dalam Ardianto & Machfudz (2011, p, 75)
Asumsi stake holder theory:
Perusahaan memiliki hubungan dengan banyak kelompok-kelompok konstituen (stake holder) yang memengaruhi dan dipengaruhi oleh keputusan perusahaan. Teori ini ditekankan pada sifat alami hubungan dalam proses dan keluaran bagi perusahaan dan stake holder-nya. Kepentingan semua legitimasi stake holder memiliki nilai secara hakiki, dan tidak membentuk kepentingan yang didominasi satu sama lain. Teori ini memokuskan pada pengambilan keputusan manajerial.

Dari penjelasan-penjelasan tersebut terlihat bahwa stake holder memiliki pengaruh yang besar terhadap jalannya sebuah perusahaan. Korporat harus memerhatikan para stake holder-nya dengan baik. Keuntungan jika sebuah perusahaan memiliki hubungan yang baik dengan stake holdernya dapat dilihat secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung perusahaan dapat bekerja sama dengan baik dengan para stake holder, dan secara tidak langsung berdampak pada munculnya citra yang baik terhadap perusahaan. Well... pada akhirnya berujung berbicara tentang citra perusahaan. Seperti yang sudah dibahas dalam artikel sebelumnya, bahwa citra sebuah perusahaan adalah tanggung jawab besar yang harus dijalankan oleh divisi Public Relations (PR). Maka dari itu seorang PR harus pintar-pintar mengerti dan memahami para stake holder dari perusahaannya.


Refrensi:
Ardianto, E. & Machfudz, D. (2011). Efek kedermawanan pebisnis dan csr. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Rabu, 19 November 2014

Video News Realease

Universitas Pembangunan Jaya yang berada di kawasan Bintaro memiliki 10 program studi, salah satunya adalah program studi ilmu komunikasi. Berikut adalah video tentang prodi ilmu komunikasi yang ada di Universitas Pembangunan Jaya, yang dapat dilihat di link ini

Enjoy :)


Selasa, 04 November 2014

Berbagai Jenis CSR dan Contoh Programnya

Berbagai program CSR yang telah dijalankan oleh perusahan tentunya bermacam-macam jenisnya. Keragaman tersebut memiliki nilai dan tujuan tersendiri dari perusahaan yang menjalankannya. Dalam artikel ini saya ingin menulis tentang 3 dari 6 jenis CSR menurut Kotler dan Lee, selanjutnya 3 jenis lainnya akan saya cantumkan dalam artikel yang akan datang.

Cause promotion atau promosi kegiatan sosial adalah perusahaan menyediakan dana atau sumber daya lainnya yang dimiliki perusahaan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kegiatan sosial atau untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kegiatan sosial untuk mendukung pengumpulan dana, partisipasi dari masyarakat, atau perekrutan tenaga sukarela untuk suatu kegiatan tertentu. ( Ardianto & Machfudz, 2011)
salah satu poster program Aqua 1 untuk 10

Kita bisa melihat bentuk nyata dari program CSR berjenis cause promotion, salah satu contohnya adalah program 1 untuk 10 yang dijalankan oleh merek air mineral Aqua. Program ini berkomitmen untuk memberikan 10 liter air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan. Pada tahap pertama, Aqua telah menyediakan akses air bersih kepada lebih dari 12 ribu penerima bantuan di beberapa desa di NTT. Program tersebut dipromosikan melalui berbagai macam kegiatan, salah satunya dalam bentuk  e-commercial dan bisa dilihat di link ini. 


Cause related marketing atau pemasaran terkait dengan kegiatan sosial. Dalam kegiatan ini, perusahaan memiliki komitmen untuk menyumbangkan persentase tertentu dari penghasilannya untuk suatu kegiatan sosial berdasarkan besarnya penjualan produk. Kegiatan ini biasanya didasarkan kepada penjualan tertentu, untuk jangka waktu tertentu. ( Ardianto & Machfudz, 2011)
berfoto bersama saat school meal program oleh Blue Band
Jenis CSR ini pernah dijalankan oleh perusahaan Blue Band yang bekerja sama dengan Hypermart, dan juga Foodmart. Prihatin dengan tingkat gizi anak Indonesia yang masih sangat rendah akhirnya ketiga perusahaan tersebut membuat school meal program. Mekanisme dari program CSR ini adalah setiap pembelian produk Blue Band 200 gram maka secara otomatis konsumen menyumbangkan Rp 1.000 untuk school meal program.

Corporate social marketing atau pemasaran kemasarakatan korporat. Dalam kegiatan ini perusahaan mengembangkan dan melaksanakan kampanye untuk mengubah perilaku masyarakat dengan tujuan meningkatkan kesehatan dan keselamatan publik, menjaga kelestarian lingkungan hidup, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. ( Ardianto & Machfudz, 2011)
pelaksanaan campaign hari cuci tangan pakai sabun sedunia oleh Dettol 
Contoh penerapan corporate social marketing di Indonesia adalah saat produk antiseptik Dettol dan Carrefour bersinergi dalam perayaan hari cuci tangan pakai sabun sedunia. Kampanye ini untuk menyebarkan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan tangan agar terhindar dari penyakit-penyakit.


Refrensi:

Ardianto, E. & Machfudz, D. (2011). Efek kedermawanan pebisnis dan csr. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Amaliafitri, A. (2009). Satu untuk sepuluh aqua bikin hidup lebih berkualitas. Diunggah pada tanggal 4 November 2014, dari http://lifestyle.okezone.com/
Sutriyanto, Eko. (2010). Sumbangan konsumen blue band diserahkan. Diunggah pada tanggal 4 November 2014, dari http://www.tribunnews.com/



Senin, 03 November 2014

Teori Legimasi untuk CSR

Memahami lebih dalam tentang CSR, Ternyata terdapat beberapa teori yang bisa diterapkan dalam menjalankan program CSR. Saya tertarik untuk membahas teori legitimasi. Apakah itu teori legitimasi?

Menurut O'Donovan, dalam Ardianto dan Machfudz (2011, p.73):

"Legitimasi organisasi dapat dilihat sebagai sesuatu yang diberikan masyarakat kepada perusahaan dan sesuatu yang diinginkan atau dicari perusahaan dari masyarakat. Dengan demikian, legitimasi merupakan manfaat atau sumber daya potensial bagi perusahaan untuk bertahan hidup"

 Legitimasi gap dapat terjadi jika:


  • ada perubahan dalam kinerja perusahaan, tetapi harapan masyarakat terhadap kinerja perusahaan tidak berubah.
  • kinerja perusahaan tidak berubah, tetapi harapan masyarakat terhadap kinerja perusahaan sudah berubah
  • kinerja perusahaan dan harapan masyarakat berubah ke arah yang berbeda, atau ke arah yang sama dalam waktu yang berbeda.

(Ardianto dan Machfudz, 2011)

Adakah hubungannya  antara program CSR yang dibuat oleh sebuah perusahaan dengan teori legitimasi tersebut?. Tentu saja jawabannya adalah iya!

Masyarakat akan berharap dengan adanya perusahaan di lingkungannya dapat menciptakan suatu pembangunan untuk masyarakat sekitar. Emil dalam Ardianto dan Machfudz ( 2011, p. 40) mengingatkan:

"jangan sampai perusahaan berskala besar menjadi enclave (pulau) di tengah-tengah samudra kemiskinan, atau perusahaan tidak mampu menjadi sentral pertumbuhan ekonomi lingkungan."  
Dari sisi perusahaan, perusahaan membutuhkan legitimasi dari masyarakat agar masyarakat dapat mendukung seluruh kegiatan perusahaan dengan lancar, sehingga perusahaan dapat berkembang dengan baik.

Dengan begitu, adanya program CSR dari perusahaan dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan dari masyarakat dan perusahaan. Dengan adanya program CSR, perusahaan dapat membantu sebuah pembangunan untuk masyarakat, sebaliknya perusahaan pun akan mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat agar kegiatan-kegiatannya berjalan dengan lancar. Legitimasi dari masyarakat akan sangat berpengaruh terhadap jalannya sebuah perusahaan, bukan hanya dalam kasus CSR tapi mencangkup hal-hal yang lebih luas.


Refrensi:
Ardianto, E. & Machfudz, D. (2011). Efek kedermawanan pebisnis dan csr. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Mengapa CSR banyak dikerjakan dalam divisi PR?

Pertanyaan dalam judul tersebut menjadi pertanyaan pertama yang ada di benak saya saat pertama kali memasuki kelas CSR di semester 5. Ya.. mengapa harus divisi PR yang umunya bertanggung jawab terhadap jalannya program-program CSR?. 


Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya ingin menyampaikan sebuah ungkapan dari Tanri Abeng, dalam Ardianto dan Machfudz (2011, p.39):
"Pada awalnya aktivitas CSR lebih dilandasi oleh kegiatan yang bersifat filantropi (dermawan), namun saat ini kita melihat bahwa CSR telah dijadikan sebagai salah satu strategi perusahaan untuk meningkatkan citra perusahaan yang akan turut memengaruhi kinerja keuangan perusahaan."
Dapat dilihat adanya kata "meningkatkan citra perusahaan" dalam ungkapan tersebut. Citra sebuah perusahaan adalah tanggung jawab besar yang harus dijalankan oleh divisi public relations. Menurut beberapa definisi yang telah kita bahas dalam artikel-artikel sebelumnya, Dapat kita simpulkan secara umum manfaat CSR adalah meningkatkan citra perusahaan, maka dari itu program-program CSR pada sebagian besar perusahaan dijalankan oleh divisi public relations.

Ya.. seperti quote yang terdapat dalam gambar di atas, public relations dapat menjadi alat yang ampuh dan jangan diremehkan. Karena jika itu dijalankan dengan benar dan hati-hati dapat membuat perbedaan besar untuk kesuksesan sebuah perusahaan.




Refrensi:
Ardianto, E. & Machfudz, D. (2011). Efek kedermawanan pebisnis dan csr. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.